Blog

Tren dan Peluang Bisnis Fashion Plus Size di Indonesia

JAKARTA, 16 Oktober 2020 – Dalam beberapa tahun terakhir, industri fashion secara konsisten semakin inklusif terhadap berbagai tipe tubuh dalam penawaran produk maupun strategi pemasarannya. Baik artis, selebgram, hingga penyanyi ternama di dalam dan luar negeri ramai-ramai menyerukan ajakan untuk mencintai dan menghargai bentuk badan masing-masing – atau yang sering disebut gerakan body positivity.

Berkat kampanye body positivity yang semakin marak, persepsi masyarakat tentang standar kecantikan tubuh perempuan tidak lagi berpegang pada standar konvensional seperti harus kurus dan tinggi. Semakin banyak brand fashion yang menciptakan variasi ukuran lebih beragam (dari XXS hingga XXXL) untuk memberikan pilihan yang bisa melayani berbagai bentuk dan ukuran tubuh perempuan, membuat penggunanya merasa lebih nyaman dan percaya diri.

Di Indonesia sendiri, riset dari Kementerian Kesehatan menemukan bahwa 1 dari 3 orang perempuan memiliki ukuran pinggang di atas 80 cm. Ini berarti, 33% perempuan Indonesia menggunakan ukuran L, XL, atau lebih besar lagi, berdasarkan rata-rata standar ritel. Namun, ketersediaan busana plus size (sebutan untuk pakaian untuk ukuran yang lebih besar, atau XL ke atas) masih sangatlah terbatas dan belum memiliki keragaman mode fashion terbaik seperti busana ukuran biasa. 

Melihat permasalahan ini, beberapa brand fashion lokal hadir untuk menawarkan solusi pilihan khusus untuk busana plus size di Indonesia. Tiga diantaranya adalah Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size. Setelah memiliki pengalaman panjang melayani pembeli di Indonesia, ketiga brand ini menjelaskan tentang peluang dan tantangan yang perlu diperhatikan dalam sektor busana plus size

1. Tren positif, terutama di kanal penjualan online

Selama pandemi, Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size memaksimalkan kanal penjualan online untuk menjangkau pembeli. Menurut prediksi dari Credence Research, penjualan digital busana plus size melalui website, situs belanja online, ataupun media sosial akan mengalami pertumbuhan tertinggi dalam periode 2018-2026. Hal ini disebabkan karena penjual tidak membutuhkan ruangan besar untuk inventaris serta display toko, dan penjualan digital dapat mengurangi jumlah pembeli yang selama ini merasa sungkan ketika terlihat berbelanja di toko offline busana plus size.

Untuk menjangkau pembeli secara efektif dan profesional, Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size menggunakan jasa solusi e-commerce SIRCLO. Melalui SIRCLO, ketiga brand ini  mampu menggunakan fitur pembayaran dan update stok secara real-time, sehingga pembeli bisa melakukan pemesanan kapan saja dan dimana saja, bahkan dari luar negeri. Dengan sistem yang otomatis ini, mereka bisa mengalokasikan waktu dan aset mereka untuk mengembangkan aspek strategis dan inovasi bisnis.

2. Pentingnya menjaga loyalitas pembeli

Boby Adi Pratama, Co-founder Bigissimo, menyatakan bahwa 60-70% total penjualan brand berasal dari pembeli setia. Karena itulah, mereka sangat tekun menjaga loyalitas pembeli dengan strategi level keanggotaan. “Misalnya, di Bigissimo, pembeli bisa menjadi anggota level 1 setelah membeli 3 produk, lalu level akan naik setelah melakukan repeat order”, jelas Boby.

Ketiga brand plus sized ini memanfaatkan fitur “kupon” dari SIRCLO yang memungkinkan website brand untuk mencetak kupon spesial dengan tujuan menarik pembeli melakukan pembelanjaan kedua dan seterusnya. “Pofeleve juga memberikan apresiasi istimewa untuk para pembeli yang sudah menjadi langganan, yaitu dengan menyediakan akses pertama bagi sejumlah pembeli untuk memilih produk-produk terbaru”, ungkap Poppy Hanadhy, tim Marketing Pofeleve. 

3. Menghadapi tantangan utama dalam hal pemasaran

Satu hal yang menjadi tantangan terbesar bagi brand busana plus size di Indonesia adalah pemasaran. Bagi Jeny Chandra, Owner Jeny Plus Size, melakukan pemasaran melalui media sosial membutuhkan alokasi waktu yang besar dan pengembangan idenya pun tidak mudah. Ini disebabkan pasar yang lebih niche, namun juga perlu mengikuti tren. Salah satu strategi yang ia tekuni adalah berfokus pada satu platform, yaitu Tiktok, untuk mengikuti tren sosial yang sedang berlangsung di Indonesia. Sementara itu, Bigissimo mengaku masih mengandalkan teknik pemasaran Word of Mouth (WOM) dan masih dalam usaha mengoptimalkan strategi iklan digital. 

Poppy dari Pofeleve juga mengakui brand harus kreatif membuat konten dan penjelasan produk yang mudah dipahami, terutama karena masih banyak pembeli yang ragu membeli produk tanpa mencoba terlebih dahulu. Untuk mengatasi keraguan tersebut, Pofeleve menerapkan standar penukaran produk yang fleksibel, agar pembeli tidak merasa kecewa karena kekecilan/kebesaran. 

Sebagai mitra dari para brand untuk berjualan online, SIRCLO berupaya memaksimalkan kehadiran mereka secara multichannel, yaitu dengan mengoperasikan berbagai kanal penjualan digital di saat yang sama, seperti website milik sendiri, penjualan via Whatsapp (yang memudahkan belanja dan sharing produk secara WOM), dan marketplace. Layanan-layanan ini dirancang untuk menyesuaikan dan melengkapi strategi-strategi brand busana plus size yang berbeda-beda dalam menjangkau calon pembeli dalam maupun luar negeri. Di samping itu, SIRCLO juga membantu Bigissimo, Pofeleve, dan Jeny Plus Size untuk mengembangkan upaya pemasaran digital, iklan, dan strategi promosi lainnya. 

“Untuk memberdayakan brand lokal, SIRCLO perlu memastikan bahwa pemilik bisnis dengan market yang niche bisa menjangkau pasar tidak hanya di wilayah tertentu, namun juga seluruh tanah air. Ini kami lakukan dengan menyediakan sistem pembangunan website, verifikasi pembayaran, bahkan hingga notifikasi pengiriman produk secara otomatis,” jelas Brian Marshal, Founder dan CEO SIRCLO.  “Melihat tren positif dari industri busana plus size di Indonesia, kami optimis bahwa persepsi masyarakat akan semakin inklusif terhadap produk busana lokal yang masih niche kedepannya,” tambahnya.

Menurut data dari Credence Research, potensi pasar untuk industri fashion plus size perempuan mencapai Rp2.400 triliun atau USD 165 miliar pada tahun 2017. Industri ini diprediksi akan terus mencatatkan pertumbuhan tahunan sebesar 4,4% pada periode 2018-2026. 

***

Tentang SIRCLO

Dimulai pada tahun 2013, SIRCLO adalah perusahaan solusi e-commerce terdepan di Indonesia yang membantu brands berjualan online. SIRCLO menawarkan empat solusi bisnis, yakni SIRCLO Store, SIRCLO Connexi, SIRCLO Chat, dan SIRCLO Commerce. SIRCLO Store adalah sebuah platform SaaS (Software as a Service) pembuatan situs toko online berbasis template bagi bisnis lokal skala kecil hingga menengah. SIRCLO Connexi menawarkan dashboard interaktif untuk mengelola penjualan dari berbagai platform e-commerce Indonesia. Selain itu, SIRCLO Chat menghadirkan platform conversational commerce berupa dashboard interaktif yang terintegrasi dengan WhatsApp Business API. Melalui solusi channel management bersifat end-to-end, SIRCLO Commerce menjawab kebutuhan brand korporat memasuki jalur distribusi online. 

Di bulan Mei 2020, SIRCLO secara resmi melakukan merger dengan ICUBE, Magento Premier Solutions Partner di Indonesia, untuk mendatangkan solusi-solusi pengembangan teknologi e-commerce dan Swift, sebuah omnichannel e-commerce builder. SIRCLO Store telah memprakarsai lebih dari 100.000 website dan membantu 3.000 brand mengembangkan bisnisnya secara online, seperti ATS The Label, Benscrub, Evete Naturals, Namaste Organic, This Is April dan Heytimmy Kidswear. SIRCLO juga telah dipercaya oleh puluhan klien yang terdiri dari 200+ brands ternama seperti Unilever, Reckitt Benckiser, KAO, L’Oréal, Eiger, dan Levi’s. Berlokasi di Green Office Park 1, The Breeze (BSD – Tangerang), hari ini SIRCLO memiliki 500 karyawan serta perwakilan yang berbasis di Bandung, Yogyakarta dan Surabaya. Lihat informasi selengkapnya mengenai SIRCLO di www.sirclo.com.

Tags: , , , , ,

To SIRCLO, the success of your online business is a priority.

Start your success story now!