Blog

Bagaimana Pandemi COVID-19 Berdampak pada E-Commerce?

Dengan pandemi COVID-19 yang merebak di negara-negara, upaya isolasi dan self-distancing pun gencar dilakukan oleh masyarakat. Perusahaan-perusahaan mendorong karyawan untuk bekerja dari rumah (work from home), sekolah dan perkuliahan dipindah ke online, dan masyarakat semakin menolak untuk pergi ke tempat umum dan kerumunan. Namun masyarakat tetap perlu memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan di sinilah COVID-19 berdampak pada e-commerce.

Baca juga: Apa yang Bisa Dilakukan oleh Brands saat Pandemi Coronavirus?

Penjualan online di beberapa sektor meningkat

Masyarakat semakin menghindari tempat umum dan toko ritel offline, sehingga penjualan online untuk beberapa sektor meningkat. Dilansir dari neilpatel.com, conversion untuk sektor makanan, kesehatan, dan farmasi meningkat signifikan. Sektor makanan mengalami peningkatan 55%, kesehatan 19%, dan farmasi 11%. Di Amerika Serikat sendiri, penjualan online diprediksi akan mengalami peningkatan hingga 12% dari total spending-nya di 2020.  

Perubahan demand dan cart abandonment

Biasanya, cart abandonment disebabkan oleh proses check out yang rumit atau pertimbangan harga. Namun saat ini, perubahan demand menjadi faktor utama cart abandonment. Semakin banyak masyarakat yang lebih memilih kebutuhan sehari-hari daripada kebutuhan tersier. Ada sektor yang lebih banyak di-demand daripada yang lain.

Survey SalesCycle.com menunjukkan bahwa cart abandonment untuk beberapa sektor yang esensial justru menurun, seperti sektor asuransi yang mengalami penurunan 11% dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain, cart abandonment untuk sektor fashion meningkat 0,95% dan otomotif 8,7%.

Shoppers beralih ke online untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari

Masyarakat dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan dan menjauhkan tangan dari wajah karena pandemi COVID-19. Karenanya, penjualan online kebutuhan untuk proteksi virus seperti hands sanitizer, masker, sarung tangan, dan spray desinfektan meningkat hingga 817% (Adobe, 2020). Untuk kebutuhan di rumah, masyarakat AS juga membeli secara online dan menyetok obat-obatan generik untuk batuk dan flu, yang penjualannya meningkat 198%.

Teknologi terus dikembangkan untuk kebutuhan masyarakat

Dikutip dari Nielsen, peran teknologi tidak akan berhenti sampai sini untuk kebutuhan e-commerce. Saat ini, masyarakat sudah semakin terbantu dengan teknologi, baik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan berbelanja online, ataupun mendapatkan informasi terkait COVID-19. Kemkominfo juga menggaet Gojek dan Halodoc untuk menciptakan uji risiko COVID-19 di dua platform tersebut.

Di tengah pandemi ini, customers semakin mengandalkan layanan dan jasa e-commerce. Semakin banyak customer akan mulai berbelanja kebutuhan secara online walaupun sebelumnya tidak pernah. Pengusaha ritel akan semakin mengadopsi teknologi untuk memenuhi kebutuhan customer, bahkan setelah pandemi berakhir. 

Baca juga: SIRCLO Hadirkan Inovasi Chat Commerce untuk Brands yang Berjualan melalui WhatsApp

Jika kamu adalah brands yang ingin berjualan online, SIRCLO akan turut mendampingimu untuk menjangkau customers. #PulihkanJarak dengan teknologi e-commerce SIRCLO Store, atau gunakan jasa enabler SIRCLO Commerce dan gapai customers di marketplace.

Buat website toko online Anda hanya dalam 1 menit