Blog

Experiential Marketing: Apa dan Bagaimana Cara Mengukurnya?

 Secara umum, experiential marketing adalah cara kreatif untuk menyampaikan pesan brand, dimana audience bisa menyentuh, melihat, dan merasakan langsung secara fisik. Tujuannya adalah untuk membangun ikatan yang lebih erat dengan customer, menimbulkan emosi positif, dan meningkatkan brand loyalty semaksimal mungkin melalui sebuah pengalaman.

Salah satu contoh experiential marketing sukses di Indonesia adalah brand es krim ternama yang membangun citra eksklusif salah satu produknya melalui berbagai campaign, mulai dari peragaan busana, kuis berhadiah item fashion branded di webstore, sampai perjalanan ke luar negeri. Mereka melihat bahwa cara itu sangat potensial untuk menyampaikan pesan khusus brand pada target audience dan menghasilkan dampak yang maksimal.

 

4 Cara Mengukur Experiential Marketing

Pasti kamu jadi pengen tahu, bagaimana sih caranya mengukur pengalaman audience dan keberhasilan experiential marketing?

 

1. Tentukan Patokan Dasar

Sebelum mulai melakukan campaign, tentukan dulu Key Performance Indicator (KPI) atau indikator performa kunci, agar kamu tahu dengan jelas tujuan apa yang ingin dicapai dan bagaimana cara mengukurnya. Salah satu cara untuk menentukan KPI adalah dengan mengidentifikasi bagaimana sebuah campaign bisa dibilang sukses.

l  Hasil apa yang ingin kamu lihat dari campaign yang sukses?

l  Langkah apa saja yang harus dikerjakan dalam campaign agar bisa sukses?

l  Apa saja KPI yang harus dipenuhi agar campaign sukses?

l  Apa campaign masih bisa dibilang sukses kalau hasil salah satu KPI kurang baik?

Setelah semua pertanyaan tadi terjawab dan kamu sudah menentukan KPI, sekarang waktunya mencari tahu metriks apa yang akan kamu pakai untuk mengukur kesuksesan campaign. Apakah yang mudah diukur seperti nilai penjualan dan peningkatan jumlah followers/like, atau yang agak susah di monitor, seperti brand sentiment.

 

2. Aktifitas di Media Sosial Setelah (atau Selama) Campaign

Hampir semua orang senang berbagi pengalaman di media sosial setelah mengikuti suatu event, dan 92% konsumen ternyata lebih percaya rekomendasi orang terdekat saat akan membeli sesuatu. Kalau experiential campaign kamu berhasil, brand toko online kamu bisa meraih jangkauan sosial yang lebih luas melalui postingan peserta event ataupun liputan. Coba platform seperti Radian6 dan Sprout Social untuk mengukur semua hal tadi dengan basis brand sentiment dan jangkauan sosial.

Kamu juga bisa membuat hashtag khusus di Facebook, Twitter, atau Instagram, supaya bisa digunakan oleh mereka yang post tentang event, sekaligus melihat pendapat objektif dari audience.

 

3. Jumlah Lead atau Pelanggan Baru

Supaya brand bisa terus sukses, penting sekali loh untuk secara konsisten memikat orang menjadi pelanggan baru. Nah, salah satu keuntungan experiential marketing adalah membuat orang yang masih asing dengan brand kamu merasa terpesona dan senang. Karena itu pastikan promosi ditujukan pada target audience yang tepat, juga disesuaikan dengan kebiasaan dan kesukaan mereka.

 

4. Angka Penjualan

Brand awareness di media sosial sudah, mendapatkan lead dan pelanggan baru juga sudah, tapi yang paling menentukan tingkat kesuksesan experiential marketing adalah event yang bisa meningkatkan jumlah penjualan. Coba deh kamu bandingkan angka penjualan toko online kamu pada periode tertentu tanpa campaign dan setelah melakukan campaign.

Semakin besar perbedaan positif diantara keduanya, maka bisa dibilang semakin sukses juga experiential marketing yang kamu jalankan.

 

Sekarang kamu jadi tahu kan, ternyata pengalaman juga bisa diukur. Kalau kamu ingin mencoba experiential marketing sebagai bagian dari strategi marketing brand kamu, yang terpenting adalah membuat partisipan merasa senang, menciptakan interaksi yang berkesan, dan menjaring pelanggan baru.

Buat website toko online Anda hanya dalam 1 menit