Blog

UMKM di Indonesia

Melihat Peran UMKM di Indonesia, Bagaimana Perkembangannya?

UMKM di Indonesia seringkali menjadi sorotan dalam pembicaraan mengenai perkembangan ekonomi. Pasalnya, sebagian besar pelaku usaha di Indonesia merupakan pemilik usaha mikro, kecil, dan menengah.

Di Indonesia Undang-Undang yang mengatur tentang UMKM adalah UU No. 20/2008, dalam UU tersebut UMKM dijelaskan sebagai: “perusahaan kecil yang dimiliki dan dikelola oleh seseorang atau dimiliki oleh sekelompok kecil orang dengan jumlah kekayaan dan pendapatan tertentu.” Berikut kriteria kekayaan dan pendapatan di dalam UU tersebut.

Definisi dari UMKM sendiri juga dapat dilihat dari aset dan omzet suatu usaha.

Usaha mikro merupakan usaha dengan aset maksimal Rp 50 juta dan omzet Rp 300 juta per tahun. Usaha kecil memiliki aset antara Rp 50 – 500 juta dengan omzet antara Rp 300 juta – 2,5 miliar per tahun. Sementara usaha menengah mempunyai aset antara Rp 500 juta hingga 10 miliar dan omzet Rp 2,5 – 10 miliar per tahun.

Baca Juga: Benefit Yang Didapatkan Pelaku UMKM Jika Memiliki IUMKM

Dengan banyaknya pelaku UMKM di Indonesia, bagaimana perkembangan dan perannya dalam pertumbuhan ekonomi? Berikut penjelasannya:

Terus Bertumbuh dari Tahun ke Tahun

Foto: Pexels/NICE GUYS

Dari tahun ke tahun, jumlah total unit UMKM di Indonesia maupun PDB-nya terus bertambah. Dari tahun 2010 ke 2017, jumlah PDB UMKM meningkat lebih dari 2 kali lipat.

Jumlah total unit UMKM di Indonesia saat ini pun telah mencapai sekitar 62,9 juta unit yang tersebar di berbagai sektor. Sekitar 99,9% usaha di Indonesia merupakan UMKM.

Selain dari PDB dan unit usaha, nilai investasi UMKM dari tahun 1999 ke tahun 2013 juga meningkat pesat, tepatnya sebesar 963%.

Per 2018, UMKM menyumbang 58,18% dari total investasi. Angka-angka ini menunjukkan pesatnya pertumbuhan UMKM di Indonesia.

Menopang Pertumbuhan Ekonomi

Foto: Pexels/Erik Scheel

Dengan banyaknya jumlah UMKM, tak heran jika UMKM merupakan penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dalam 5 tahun terakhir, kontribusi UMKM di Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) meningkat dari 57,8% menjadi 61%.

Hal ini membuat UMKM menjadi jaring pengaman sekaligus penggerak perekonomian. Hal ini dikarenakan UMKM memiliki siklus transaksi yang cepat dan produknya pun cenderung berhubungan langsung dengan kebutuhan utama masyarakat.

Baca Juga: 4 Cara yang Dapat Dilakukan UMKM untuk Bertahan Selama PPKM

Pengaman Ekonomi Saat Krisis

Foto: Pixabay

Bukan hanya saat kondisi normal saja, UMKM juga menjadi pengaman di masa krisis, misalnya saat krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008.

Pada kedua krisis tersebut, UMKM malah dapat memanfaatkan bahan baku dalam negeri untuk mendapatkan keuntungan.

Data Badan Pusat Stastistik pun merilis keadaan tersebut pasca krisi ekonomi. Jumlah UMKM tidak berkurang, justru meningkat dan bertumbuh terus, bahkan mampu menyerap 85 juta hingga 107 juta tenaga kerja sampai tahun 2012.

Pada tahun itu jumlah pengusaha di Indonesia sebanyak 56.539.560 unit. Dari jumlah tersebut, UMKM sebanyak 56.534.592 unit atau sebesar 99,99%. Sisanya sekitar 0,01% atau sebesar 4.968 unit adalah usaha bersekala besar.

Mengapa UMKM di Indonesia bisa bertahan di tengah krisis ekonomi? karena mayoritas usaha berskala kecil tidak terlalu tergantung pada modal besar atau pinjaman dari luar dalam mata uang asing.

Sehingga, ketika ada fluktuasi nilai tukar, perusahaan berskala besar yang secara umum selalu berurusan dengan mata uang asing adalah yang paling berpotensi mengalami imbas krisis.

Fenomena ini menjelaskan bahwa UMKM merupakan usaha yang produktif untuk mendukung perekonomian secara makro dan mikro di Indonesia serta memengaruhi sektor-sektor yang lain agar turut berkembang.

Namun, UMKM juga saat ini menjadi salah satu jenis usaha yang paling terdampak dengan adanya pandemi.

Adapun masalah UMKM yang dialami selama pandemi COVID-19, yakni permasalahan tenaga kerja akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kesulitan bahan baku, hambatan distribusi produk, serta banyaknya konsumen yang berubah konsumsinya dari offline menjadi online.

Menyerap Tenaga Kerja

Foto: Pexels.com

Jumlah UMKM sangat banyak dan tersebar di berbagai wilayah, mulai dari perkotaan hingga pedesaan.

Selain itu, UMKM terbukti mampu menyerap tenaga kerja yakni sebesar 97% dari seluruh tenaga kerja nasional dan menyedia 99% lapangan kerja.

UMKM pun tergolong padat karya karena mempunyai potensi pertumbuhan kesempatan kerja yang besar dan peningkatan pendapatan.

UMKM juga berperan penting dalam menampung banyak pekerja yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah.

Artinya, UMKM dapat membantu masyarakat lokal untuk produktif serta mengurangi tingkat tingkat pengangguran dan kemiskinan.

Baca Juga: 4 Platform Jualan Online yang Cocok untuk UMKM

Bidang Usaha

Foto: Pexels.com

Dilihat dari bidang usahanya, ada 3 bidang usaha non-pertanian yang mendominasi perekonomian nasional menurut Sensus Ekonomi tahun 2016. 

Tiga bidang usaha tersebut adalah perdagangan besar dan eceran (total pelaku 46,17%), akomodasi dan penyediaan makan minum seperti restoran, rumah makan, kafe, dan katering (16,53%), dan industri pengolahan yakni kegiatan mengubah bahan baku menjadi barang setengah jadi atau jadi (16,53%). 

Akses Terhadap Pendanaan

Foto: Pexels.com

Walaupun perkembangan UMKM terus meningkat, pelaku UMKM seringkali masih menghadapi sejumlah kendala salah satunya dari segi pendanaan.

Hanya 19,4% UMKM yang mendapatkan pembiayaan perbankan. Hal ini disebabkan karena literasi keuangan dan pembiayaan UMKM di Indonesia sendiri masih rendah. 

Digitalisasi

Foto: Pexels.com

Tantangan lain yang juga dihadapi oleh UMKM adalah perkembangan teknologi saat ini yang begitu pesat.

Teknologi dapat membantu pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis mereka agar dapat bersaing dan unggul.

Apalagi, banyak masyarakat yang sudah beralih menggunakan teknologi sehingga beralih ke metode cashless saat berbelanja.

Adanya peralihan dari jual beli manual ke digital mau tidak mau membuat para pelaku usaha UMKM untuk ikut beradaptasi.

Namun, baru sekitar 13% UMKM yang terhubung dengan pasar digital. Salah satu penyebabnya adalah karena literasi digital yang masih rendah.

Padahal, pola hidup masyarakat saat ini telah beralih secara digital dan teknologi pun kian menjadi penggerak ekonomi, terutama di masa pandemi.

Maka dari itu, sangat penting bagi UMKM untuk mulai melakukan transformasi digital. Tidak hanya sebagai platform untuk penjualan saja tetapi untuk keseluruhan kegiatan bisnis mulai dari pemasaran, menjangkau customer, informasi produk, menjaga loyalitas, hingga melayani konsumen.

Dengan demikian, UMKM bisa terus beradaptasi dengan perubahan yang ada dan tetap menjadi penopang ekonomi yang kuat bagi Tanah Air.

Perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, seperti kementerian/lembaga, pemerintah daerah, institusi perbankan, fintech, marketplace dan seluruh pelaku usaha untuk dapat menyiapkan UMKM agar dapat bersaing di pasar domestik dan pasar global melalui digitalisasi.

Baca Juga: 4 Platform Jualan Online yang Cocok untuk UMKM

Bisnis UMKM juga dapat mengembangkan bisnis melalui platform penjualan online. Dengan berjualan online, bisnis dapat lebih mudah menjangkau pelanggan dari seluruh penjuru negeri dan meningkatkan penjualan.

SIRCLO Store dapat membantu bisnis berjualan melalui solusi teknologi yang ditawarkan dan mengaktifkan berbagai channel untuk berjualan. Klik di sini untuk tahu lebih lanjut.

To SIRCLO, the success of your online business is a priority.

Start your success story now!