Blog

Tren Media Sosial Sebagai Toko Online

Saat ini siapa yang tidak mengenal media sosial? Hampir setiap orang di muka bumi ini memiliki akun “medsos”, bahkan termasuk anak-anak dan para orang tua. Sehingga jika dulu media sosial identik dengan kalangan remaja hingga dewasa yang notabene lebih eksis dalam hal persosialan, kini seluruh lapisan masyarakat sama-sama bisa ikut eksis! Fenomena ini pun terus meningkatkan pengguna akun social media dan seiring dengan peningkatan jumlah user, maka setiap tahun selalu muncul tren medsos baru.

Tren ini juga memicu munculnya para pelaku bisnis di dunia maya atau biasa disebut dengan toko online. Jika pada umumnya seseorang berjualan barang ataupun jasa di sebuah tempat atau toko, maka kini tanpa memiliki toko pun kamu bisa berjualan dan mendapatkan keuntungan. Bahkan beberapa toko online sukses meraup keuntungan dan menjadi brand e-commerce yang besar.

Beberapa tahun silam media sosial yang begitu populer adalah Friendster, kemudian Facebook, lalu bergeser ke Twitter, Instagram, Snapchat, Path, dll. Namun dari sekian banyak media sosial yang menjadi tren, tidak semua dapat digunakan untuk lapak jualan. Hal ini karena format platform dan fitur yang didukung oleh setiap media sosial berbeda dari satu sama lainnya.

 

Facebook, Twitter dan Instagram adalah 3 media sosial yang hingga kini masih digunakan oleh sebagian orang untuk berjualan. Alasan utama media sosial ramai digunakan untuk berjualan adalah karena faktor biaya yang relatif murah, bahkan bisa dibilang gratis. Cukup dengan koneksi internet dan smartphone atau laptop, kamu sudah bisa berjualan.

Lalu dengan kemudahan ini apakah media sosial dapat bersaing dengan toko online sebagai lapak jualan? Untuk bersaing sepertinya memang bisa, namun untuk menyaingi masih belum. Saat ini media sosial lebih berfungsi sebagai pendukung toko online, karena masih memiliki banyak kekurangan jika dibandingkan platform e-commerce khusus pada umumnya.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini beberapa kelemahan yang menunjukkan bahwa media sosial belum mampu untuk menyaingi platform e-commerce sebagai lapak jualan:

1.       Media Sosial Memiliki Arus Informasi Yang Terlalu Cepat

Kamu sebagai pengguna media sosial tentu tahu bahwa setiap pengguna bisa meng-update status atau postingannya sesuka hati tanpa mengenal jarak waktu. Ini menyebabkan halaman timeline media sosial dapat berubah dengan sangat cepat.

Hal inilah yang memicu informasi produk jualan kamu tenggelam dengan cepat. Untuk mengatasinya mungkin kamu bisa melakukan posting berulang kali. Namun keputusan ini seperti sebilah mata pisau yang bisa berakibat bagus karena memungkinkan posting kamu untuk dijangkau oleh followers, namun juga bisa berakibat buruk karena dapat dianggap sebagai spam.

 

2.       Media Sosial Masih Sebagai Penyampai Informasi

Media sosial yang notabene adalah bukan tempat untuk berjualan tentu memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah keterbatasan jumlah karakter pada caption sehingga kamu tidak bisa menyampaikan detail lengkap dari produk yang kamu jual. Oleh karena itu seringkali seseorang yang berjualan di media sosial membuka kesempatan bagi calon konsumen untuk bertanya via inbox ataupun komentar langsung di postingan tersebut. Namun sebagai pemula bisnis online pribadi, tentu kamu sadar bukan bahwa kamu tidak sepenuhnya memiliki waktu untuk mengurus media sosial saja.

3.       Tidak Akurat Saat Dilakukan Pencarian

Ketika ingin membeli barang atau jasa, apakah kamu pernah mencari langsung di media sosial? Hingga kini mayoritas dari pebelanja online masih searching dengan menggunakan mesin pencarian atau search engine seperti Google ketika melakukan pencarian produk berdasarkan brand ataupun kategori produk. Nah yang menjadi masalah adalah kebanyakan hasil pencarian akan memunculkan alamat website, bukan akun media sosial.

Selain itu, penggunaan hashtag untuk menampilkan produk pada hasil searching di media sosial (umumnya Instagram) menjadi sebuah tantangan karena semakin banyak bisnis online yang menggunakan variasi hashtag unik untuk mendeskripsikan produk mereka. Dilema pertama pun muncul kembali; arus informasi yang masuk terlalu cepat dengan banyaknya pesaing yang memasang hashtag serupa.

4.       Kurangnya Rasa Percaya atau Kredibilitas

Dalam melakukan transaksi jual-beli khususnya di dunia maya, kepercayaan adalah satu aspek penting yang sering menjadi pertimbangan para konsumen. Jika kamu menjadi konsumen, mana yang akan kamu anggap lebih terpercaya: website toko online atau akun media sosial? Mayoritas pasti akan menjawab website toko online, karena dengan adanya website kamu bisa tampak lebih professional dengan kemampuan menampilkan segala informasi yang konsumen butuhkan seperti detail mengenai brand kamu, spesifikasi produk, sistem pembayaran bersertifikasi aman dan informasi lainnya yang juga diinginkan oleh konsumen.

 

Dari ulasan di atas, tentu terlihat bahwa akan lebih baik jika kamu membuka website toko online sebagai platform untuk melakukan transaksi dan manfaatkan kemudahan media sosial untuk mendukung toko online tersebut. Namun apabila biaya pembuatan toko online masih menjadi kendala, SIRCLO pun menawarkan Paket Starter dimana kamu bisa membuat website gratis tanpa batas waktu maupun komitmen! Cukup dengan klik link di bawah ini dan mengikuti langkah-langkah membuat toko online, kamu sudah selangkah lebih maju untuk membuka lapak jualan yang profesional dan terpercaya.

To SIRCLO, the success of your online business is a priority.

Start your success story now!